Fairy Tale : Batu Golog (Indonesians Fairy Tales)

Free download. Book file PDF easily for everyone and every device. You can download and read online Fairy Tale : Batu Golog (Indonesians Fairy Tales) file PDF Book only if you are registered here. And also you can download or read online all Book PDF file that related with Fairy Tale : Batu Golog (Indonesians Fairy Tales) book. Happy reading Fairy Tale : Batu Golog (Indonesians Fairy Tales) Bookeveryone. Download file Free Book PDF Fairy Tale : Batu Golog (Indonesians Fairy Tales) at Complete PDF Library. This Book have some digital formats such us :paperbook, ebook, kindle, epub, fb2 and another formats. Here is The CompletePDF Book Library. It's free to register here to get Book file PDF Fairy Tale : Batu Golog (Indonesians Fairy Tales) Pocket Guide.

Dari tempat parkir kami segera menuju ke pantai. Dan ya Allah, ini indah sekali! Berbeda dengan pesonanya 3 bulan yang lalu. Seperti rencana awal, kami bersiap segera terjun mandi ke pantai yang berpasir halus dan berkilau itu. Tapi sebelumnya, ingin mengisi perut dulu. Kami singgah di salah satu kedai makan di pinggir pantai, memesan kelapa muda dan menyantap nasi kuning yang dibawa tadi. Hem, nikmat sekali, sambil memandang hamparan pemandangan indah di depan sana.

Sedang asyik makan, kami ditawari untuk menyewa alat selancar. Sekaligus diberikan kelas singkat cara berselancar. Tawar menawar yang cukup alot, akhirnya dari harga Rp. Harga untuk satu jam pelajaran surfing di air! Dan bermain sendiri setelah satu jam itu. Akhirnya, setelah sekitar 15 menit latihan yang aneh tadi, kami digiring menuju lokasi surfing.

Berjalan menuju garis pantai terdekat dengan bukit. Ombaknya paling besar di sana, kata dua instruktur bernama Jonny dan satu lagi yang aku lupa namanya. Aku seketika deg-degan. Ombaknya paling besar? Tadinya aku pikir bermain selancarnya cukup dengan ombak di depan kafe tadi. Nggak gede-gede amat. Brrrr, ini menjadi betulan mendebarkan. I felt like a prisoner! Buat apa?

Agar kita nggak terpisah dari papan? Biar kita yang selamat atau papannya yang nggak hilang? Tanpa banyak pertanyaan, kami melangkah -dengan kaki terikat membawa papan selancar- mengikuti dua instruktur ini. Nggak ada rencana mau berselancar hari ini. Dan sekarang kami bertiga menyeret papan selancar berat dengan kaki terikat dan menuju ombak yang tampak tiba-tiba menyeramkan di depanku. Dalam hatinya, lah kok nggak bisa berenang trus mau surfing. Tapi dikit. Sisi lain bagian diriku protes. Lah, ntar kamu malah nggak dizinkan ikutan! Itu nggak terlalu dalam kok.

Sesampainya di lokasi itu, kami diminta naik ke papan selancar, didorong ke tengah, dan begitu ada ombak besar datang, didorong lagi ke pinggir, sambil diteriaki agar berdiri. Ya, satu dua kali pertama, terasa berdebar, canggung, tidak seimbang, sedikit takut, dan jatuh ke air. Amazing bisa melakukan sesuatu yang baru.

Momen pertama itu memang selalu berkesan, dan, luar biasa! Bravo guys! We did it! Capek dan puas bersenang-senang dengan papan selancar, kami kemudian kembali ke kafe yang tadi, sementara sudah cukup banyak pengunjung lain yang datang. Pantai bukan milik kami lagi. Bergegas kami mandi, bersalin pakaian, dan bersiap menuju tujuan berikutnya, Pantai Tanjung Aan. Petualangan ini baru dimulai! Sesaat setelah membuka pintu kosan malam ini, aku terperangah. Tenda oranye darurat yang kami -pemilik dan penghuni kosan putri ini- tempati selama berhari-hari sejak gempa, telah tiada.

Aku baru tiba kembali di Lombok, setelah menghabiskan waktu bersama keluarga saat Hari Raya Kurban, kemarin. Semua diawali saat gempa tanggal 5 Agustus lalu semua penghuni kosan -yang berjumlah sekitar 20 orang ini- memutuskan untuk berkumpul, berpelukan, beberapa bertangisan, dan diam membeku menunggu pagi di halaman kosan. Meski diliputi kecemasan mencekam akibat gempa yang datang susul menyusul malam itu, sekilas kami merasa hal ini cukup lucu.

Bukan gempanya yang lucu. Tapi berpelukannya itu. Di dalam gelap pekat, akibat mati lampu total. I have no idea siapa yang kurangkul, coba kutenangkan, sambil coba menenangkan diri juga. Kami saling berpelukan di halaman dalam kelompok-kelompok kecil; 3 atau 4 orang. Bersimpuh di tanah, mencoba menyeimbangkan tubuh masing-masing dari guncangan gempa yang serupa gelombang, masih datang dan pergi. Trus lucu apanya? Ya, karena kita nggak begitu saling mengenal sebenarnya. Di sekosan itu, aku paling kenal dekat dengan Rahma dan Resty, rekan sekantorku. Ada beberapa yang pernah kenalan, tapi ya sebatas tahu nama saja.

Paling banter, sapaan pas pagi ketika sama-sama buru-buru ke kantor. Pulang kantor pun biasanya matahari udah tenggelam, jadi satu-satunya tempat yang dituju hanya kamar tidur. Jadi yah, cukup menggelikan suasana mencekam malam itu. Dan ya, gara-gara gempa itu, aku malah baru ngeh kalo ada teman sekosan yang asal Padang. Malam itu saat gempa, dia menelpon keluarganya dengan bahasa minangnya yang kental.

Nggak gaul kali kita berdua. Malam saat gempa itu, kami hanya tidur beralaskan apa saja yang berhasil kami sambar dari kamar. Menariknya, terminal kabel untuk colokan adalah termasuk benda pertama yang kami selamatkan. Beruntung kosan punya genset, sehingga setelah berjam-jam dalam kegelapan, dan gempa sedikit mereda, genset pun dinyalakan.

Setidaknya, kami bisa mencas HP untuk menghubungi keluarga masing-masing. Satu dua malam berikutnya, perlengkapan tidur kami sudah lebih lengkap. Teman-teman sudah mengeluarkan tikar, bantal, guling. Masih beratapkan langit dan bintang-bintang, dan untung saja tak ada hujan. Setelah beberapa hari, beberapa teman mulai terserang flu dan batuk. Beberapa teman dan pemilik kosan dan keluarganya, sudah memutuskan untuk tidur kembali ke dalam kamar masing-masing. Dan ya, gempa kembali mengguncang di siang bolong.

VIDEO KAK RICO

Kekuatannya yang 6,2 SR membuat warga Lombok kembali kocar-kacir. Beredar sebuah video bangunan Alfamart yang runtuh dalam hitungan detik. Dan lokasi bangunan itu, hanya beberapa blok dari kosan kami! Juga ada satu mesjid yang kubahnya patah, juga tak berapa jauh dari tempat kami. Gempa ini, membawa semua penghuni kosan kembali bermalam di luar rumah.

Kali ini, pemilik kosan mendirikan tenda oranye itu. Yang kusebut sebagai tenda, adalah terpal yang dibentangkan. Masing-masing ujungnya dikaitkan pada pohon atau tiang-tiang di sekitar halaman. Keberadaan tenda ini, meski kerap meliuk-liuk diterpa angin, setidaknya melindungi kami dari embun dingin di pagi buta. Hanya saja, pada satu malam, hujan turun dengan deras dan tiba-tiba. Dalam sekejab, kami berlarian menuju sebuah berugak di halaman rumah.

Berugak adalah semacam pondok kecil yang biasa dimiliki orang-orang di halaman rumah mereka di sini. Tentu berugak itu tak bisa menampung kami semua. Tapi malam itu, kami bersempit-sempit, menghindari hujan di bawah atap berugak. Demikianlah hari-hari kami bersama. Pagi hingga malam hari menjalani aktifitas seperti biasa. Oh no, tak lagi seperti biasa. Jadinya hari-hariku lebih banyak dihabiskan dengan berkendara hampir dua jam ke daerah bencana, membantu apa saja yang bisa kami bantu, kembali lagi ke kantor.

Bersama tim di kantor, lalu menguras otak dan ide agar bisa membantu dengan lebih maksimal dan sesuai kapasitas yang kami miliki. Suasana hari-hariku terbilang jauh dari normal. Gabungan antara trauma dan tak berani masuk kamar maupun bangunan kantor ditambah pikiran yang tak lepas dari para korban yang bersentuhan denganku langsung saat memberi bantuan, perasaan dan pikiran yang tarik ulur antara menurunkan semua staf lapangan ke area pusat bencana untuk memberikan bantuan maksimal dengan mencemaskan keselamatan mereka.

I am exhausted. Semua beban itupun kemudian tak pula bisa dibawa beristirahat. Sepulang kantor yang selalu larut sejak gempa, sulit sekali untuk memicingkan mata. Bukan hanya karena nyamuk yang mengiang di telinga, atau rasa trauma yang menyesakkan dada, gempa susulan yang masih kerap terasa juga menjadi alasan tidurku tak pernah lelap.

Tetapi karena adrenalin yang terus memacu, mengingat setiap saat aku harus awas, berjaga-jaga bila ada gempa lagi, setiap pagi tiba, aku bisa tetap segar dan beraktifitas sebagaimana biasa. Berhari-hari begitu. Aku belum siap untuk K. Baru saja aku berada di ruang pesawat, aku langsung tertidur lelap. Begitupun saat tiba di rumah. Tak sempat lama bercengkrama lama dengan keluarga, aku kembali tertidur pulas. Dan lama. Mungkin 24 jam aku tidak terbangun sama sekali. Sepertinya tubuhku membalaskan kepenatannya selama hari-hari belakangan. Tenda oranye darurat yang kami -pemilik dan penghuni kosan putri ini- tempati selama berhari-hari sejak gempa telah berganti dengan tenda biru.

Yang kukatakan dengan tenda biru adalah terpal biru -yang tampak baru- yang disangga dengan bambu kokoh di beberapa sisi. Cukup luas, sangat luas malah. Didalamnya telah ditata dengan tikar dan karpet. Di atasnya sudah ada kasur-kasur lengkap dengan alasnya. Tampak sangat nyaman. Aku sendiri mendakwa berugak sebagai wilayah pribadiku. Aku membawa kasur, bantal, guling, lemari mini -yang kujadikan meja kecil untuk menulis dan kerja-, beberapa buku favorit yang tak bisa jauh dariku, dan kipas angin. Aku bersepakat dengan diri sendiri, akan coba menjalani hari-hari di sini senormal mungkin.

Entah seperti apa normal itu. Mungkin kembali pada agenda-agendaku -yang selain pekerjaan kantor- yang terabaikan sejak bencana ini. Kembali berolahraga dan konsumsi makanan sehat.


  • Batu Golog (Golog Stone).
  • The Secret Life of the Cross-Cultural Fairy Tale: A ...;
  • Malaysian and Indonesian Children Stories and Folk Tales.
  • Navigasi tulisan.

Kembali menulis dan menyelesaikan proyek-proyek tertunda. Aku ingin kembali melakukan semua itu. Tak lebih satu jam lagi pesawat ini akan segera mendarat di Singapore Changi Airport. Tiga minggu lalu saat keberangkatan ke USA, aku sempat singgah di bandara ini. Saat itu juga agak sedikit dramatis berlari-lari mengejar penerbangan, jadi aku tak begitu bisa mengamati bandara yang digadang-gadang sangat luas dan lengkap dengan berbagai fasilitas ini.

Aku tiba pukul Sebenarnya pesawat mendarat 15 menit lebih awal, tetapi pesawat berputar di bandara sebelum berhenti menghabiskan waktu lumayan lama -buat ku yang terburu-buru ini-. Pesawat berikutnya ke Lombok nanti pukul Seharusnya waktu 1 jam 45 menit lebih dari cukup untuk tidak perlu berkejaran seperti sebelumnya. Tapi aku punya 2 koper di bagasi. Penerbangan dari Boston transit di San Fransisco dan dilanjutkan ke Singapore ini, aku menggunakan perusahaan penerbangan yang sama; United Airlines.

Sedangkan dari Singapore ke Lombok, aku akan terbang bersama Singapore Airlines. Dua perusahaan berbeda.

Five Most Popular Indonesian Folk Tales (and Their Subtexts)

Sebelumnya aku diwanti-wanti oleh Advisorku di Boston, katanya meski itu perusahaan yang berlainan, tapi mereka bekerjasama. Jadi, saat check-in di Boston, aku bisa menginformasikan jika tujuan akhirku adalah di Lombok, Indonesia. Sehingga bagasiku bisa langsung diteruskan hingga Lombok, dan aku tak perlu direpotkan untuk antri menunggu bagasi, lalu antri lagi menyerahkan bagasiku di Singapore ini.

Masalahnya, saat di Boston dan dengan manis menjelaskan hal tersebut, jawaban petugas di tempat check in adalah; No way. Koperku hanya bakal sampai Singapore, aku harus mengambilnya di sana, dan menyerahkannya untuk penerbangan berikut. Dan di sinilah aku sekarang. Mereka-reka berapa banyak waktu yang harus kuhabiskan untuk menunggu koper itu, antri menyerahkannya pada penerbangan dengan Singapore airlines, menemukan teminal dan gerbang keberangkatanku.

Cukupkah 1 jam 45 menit ini? Begitu, pintu pesawat terbuka, aku kembali merangsek maju. Dengan kecepatan yang sebelumnya tidak pernah aku praktekkan, aku termasuk 10 orang pertama yang terlebih dahulu keluar pesawat. Di pintu keluar, ada beberapa petugas yang menunggu. Aku menghampiri salah satu dari mereka dan mengutarakan kerisauanku. Could you help me, please. Oh damn, saat self check-in di Boston, code number yang harusnya aku kantongi, malah tak kuambil dan kubiarkan menempel di koper.

I did the self check in, and I forget to take the code number that I should keep for myself. Petugas berusia sekitar 30 tahunan, berwajah khas melayu, dengan tinggi kira-kira dua jengkal lebih tinggi dariku ini diam sejenak. Aku memaksakan diriku menatapnya.

Siap menerima jika dia mengomeliku, enggan membantu, dan membiarkanku berlalu. Tak nyana dia malah bertanya,. Diapun kemudian sibuk dengan handphonenya, tampak menghubungi bagian bagasi. Lalu setelah beberapa saat, dia menuliskan angka-angka di tiketku. This is your code number for your luggage. Now you can walk to the right, keep going that way. Seorang wanita yang buatku tampak seperti orang Indonesia, meski saat bersapa sambil menuju meja transit itu, aku bisa menyimpulkan dari logat Englishnya kalau dia lebih mungkin berasal dari Philipine.

Aku berjalan bergegas menyesuaikan dengan gerak langkah wanita ini. Sekitar 10 menit berjalan, wanita itu menunjuk pada tanda besar yang terpampang, lalu melambaikan tangan padaku dan berlalu. Aku bergegas ke meja itu, ada beberapa orang yang mengantri di depanku. Aku duduk menanti dengan sabar. Akhirnya, giliranku tiba. Aku mengeluarkan tiket dan pasporku. Sepuluh menit berlalu. Lima belas menit. Dua puluh menit, petugas di depanku masih tampak sibuk dengan perangkat komputernya. Perasaanku mulai tak enak.

Something wrong? Emm, no. My advisor bought the ticket using his credit card. Is there something wrong? I can pay with cash if needed. Beberapa petugas di hadapanku tampak bertukar pikiran. Tampak alot dan tidak menemui titik tengah. I need the credit card that you were using to buy the ticket. Dia tampak menggeleng-gelengkan kepalanya. Demikian juga rekan-rekannya. Aku membeku tak tahu harus berbuat apa pula. Tiba-tiba sebuah suara yang seakan kukenal, terdengar dari sampingku.

Aku menoleh ke samping, dan menemukan malaikat penyelamatku berdiri di sana, petugas yang tadi! Petugas yang sama yang menolongku dengan bagasi tadi. Dia kemudian terlihat berbincang dengan petugas meja transit yang meminta credit card tadi. Beberapa menit berlalu, rasanya lama sekali aku menunggu, apa yang akan terjadi. Just walking in this same way, you will find another transit desk.

They can help you there. Aku mengangguk tak punya pilihan, melirik handphone, ah waktuku telah terbuang hampir satu jam. Tinggal 45 menit sebelum aku ketinggalan pesawat ini. Kemudian buru-buru melaju dengan tas yang sekarang terasa bertambah berat, atau semangatku yang berkurang? Kira-kira 5 menit berjalan bergegas, satu tas tak lagi kuangkat, tapi kubiarkan terseret. Kurasa energiku telah habis terkuras.

Ah, kenapa nggak kepikiran dari tadi. Tapi manapula aku sempat memikirkan ini. Aku buru-buru meraih trolly itu dan mendorongnya. Tak ingin merepotkan orang ini lebih jauh. Anyway, you will go to Lombok, right? Akhirnya kami tiba di meja berikutnya. Petugas ini, aku sempat melihat papan namanya tapi sungguh tak sempat terekam di memoriku, berunding cukup lama dengan rekan-rekannya di sana.

Aku hanya menunggu harap-harap cemas. Terbayang adegan-adegan di film-film. Saat sang pengacara sedang beradu pendapat dengan hakim dan jaksa penuntut. Nasibku seperti berada di tangan petugas ini. Oh my God. Aku melepas napas lega. Take care, and you just need to find this gate. Go this way. Aku mengangguk sambil mengambil aba-aba siap berlari. Tinggal 30 menit lagi. Yes, aku berhasil lagi. Tiba pada waktunya di gerbang keberangkatanku, mengantri masuk, dan kemudian duduk manis menuju Lombok.

Aku berhasil lagi. Bagasiku aman. Dan aku tidak ketinggalan pesawat. Bukan hanya karena aku. Karena ada saja orang yang bersedia membantuku. Apa memang demikian prosedur yang akan dilakukan oleh semua petugas di Bandara Changi Singapura? Memastikan semua penumpang mendapat bantuan yang mereka butuhkan? Ugh, alangkah kerennya. Ataukah aku cuma beruntung?

Ah, akhirnya aku bisa tidur tanpa mengkhawatirkan ketinggalan pesawat lagi. Tak sampai 4 jam lagi, aku akan tiba di Lombok. Aku tersenyum, sambil membayangkan, jika benar ada sosok peri pelindung, aku tak keberatan dia berwujud pria berkulit coklat, dengan bahasa Inggris logat melayu yang kental, dan senyum yang sekali-sekali saja.

Tak banyak yang menyita perhatianku selama 16 jam lebih penerbangan San Fransisco — Singapura itu. Selain ketika di awal keberangkatan, seorang pria yang tampak ramah dan bertubuh tambun di sebelahku menegurku sopan,. Aku melirik lampu baca di atas kepalanya. Jauh lebih tinggi posisinya dibandingkan posisi lampu baca yang biasa kujumpai dalam penerbangan domestik.

Sehingga, apabila aku berdiri pun, aku takkan bisa menjangkaunya. Mungkin dia sudah sedari tadi memanggilku. Aku merasa suaranya terngiang ikut ke dalam alam bawah sadarku. Aku memaksa membuka mataku yang berat. Mencoba membawa ingatanku kembali ke masa ini. Dimana aku? Ah ya, pesawat. Mataku yang masih setengah memicing, mencoba melihat ke layar kecil di hadapanku. Tadi aku tertidur sambil memandangi layar yang kuatur hingga memunculkan gambar bola bumi lengkap dengan informasi tentang jarak tempuh yang harus kulewati hingga berapa lama sudah perjalanan yang telah pesawat kami tempuh.

Baru 40 menit. Aku ingin memelototi pria ini. Dia membangunkanku yang baru saja terlelap beberapa menit. Susah payah aku mencoba menatapnya dalam samar. Aku jadi tak tega menunjukkan muka cemberutku. It is off now! Aku ikut mendongak dan mendapati lampu tadi telah padam. Dia mengangguk kuat-kuat. You did it! Enjoy it! Kami berdua tertawa pelan, dan tak lama kemudian dia tampak mulai terlelap dan aku kembali berniat meneruskan tidurku.

Sayangnya, aku tak bisa. Akhirnya aku mencoba melihat beberapa judul film yang menarik perhatianku, tapi hanya dalam 10 menit pertama pada setiap film, aku sudah kehilangan minatku. Perhatianku malah tertuju pada layar dua tiga orang di sekitarku. Apa judul film yang mereka tonton itu, tampak sangat menarik justru. Akhirnya setelah lebih satu jam usaha yang sia-sia untuk menemukan tontonan, aku mengambil ranselku dari bawah tempat duduk dan mengambil buku catatan. Ada beberapa pekerjaan yang harus aku rampungkan.

Paling tidak aku bisa tulis beberapa garis besar dan mengeksekusinya nanti saat tiba di kantor. Well, aku butuh menghidupkan lampu baca di atas itu. Ups, aku melirik pria yang tidur sangat nyenyak di sampingku ini. Hem, dia tahu caranya, pikirku jahil. Tadi dia membangunkanku hanya untuk bilang kalau dia tahu caranya. Haruskah aku balas membangunkannya dan bertanya bagaimana caranya?

Haha, why not? Dia tampak tersentak tapi belum membuka matanya. Sekerjab aku merasa bersalah. Tapi tak urung, aku menutup mulut menahan tawa. Could you please show me, how to turn on the light? Tangannya, menekan layar di depan, dan menunjukkan cara menghidupkan lampu baca itu padaku. I woke you up first! Aku tersenyum, aha satu satu!

Tapi dari arah belakang pesawat, terdengar mulai ribut-ribut para flight attendant menyiapkan makanan kecil. Mungkin aku tak usah tidur dulu, segelas orange juice dingin akan memberiku sedikit kebahagiaan saat ini. Sambil menghayati, bahwa tanpa saling mengenalpun, kita -manusia- bisa berbagi momen-momen aneh seperti tadi, tanpa harus mempersoalkan ras, agama, kepentingan politik, atau apapun itu.

Aku tidak bisa menikmati penerbanganku kali ini. Boston — San Fransisco, waktu 6 jam 30 menit ini akan berlalu dengan aku yang harap-harap cemas. Daftar panjang -yang tidak begitu panjang- film di layar kecil berjarak 90 senti dari wajahku ini, tak cukup untuk menghiburku. Aku memang bukan penggemar film. Kalau ada satu dua yang kuburu untuk kutonton, ya sebatas itu saja.

Terlalu kerap aku menyesali waktu 2 sampai 3 jamku menonton film, tak ada apapun dari sana yang kudapat! Hanya tawa atau tangis sekejab terbawa suasana. Buang-buang waktu. Waktu yang semakin ke sini, terasa semakin berharga saja.

Ditambah, aku sudah menghabiskan waktu hampir 24 jam Indonesia — Amerika tiga minggu yang lalu, dan aku sudah melahap habis semua film yang menarik perhatianku dari daftar yang sama ini. Aku khawatir terhadap banyak hal saat ini; tapi yang paling depan menghadang adalah jadwal penerbanganku selanjutnya. Nanti di San Fransisco, aku harus ganti pesawat ke Singapura. Dan waktu transitnya kurang dari satu jam! Aku menghela napas, percuma aku berkeluh kesah sendiri saat ini, takkan merubah apapun.

Lebih baik aku mulai memikirkan cara, bagaimana aku bisa tidak ketinggalan pesawat. Mungkin saja pihak penerbangan akan mengganti dengan penerbangan selanjutnya. Tapi itu berarti aku juga akan ketinggalan pesawatku dari Singapura ke Lombok! Aku hanya ingin segera sampai Lombok saat ini. Tiba di bandara, memanggil taksi, dan merangkak naik ke lantai dua, kamar kosku yang nyaman. Tidur sepuasku.

fairy tale batu golog indonesians fairy tales Manual

Perjalanan hampir 3 minggu di Amerika, benar-benar menguras energiku, dalam artian yang sebenarnya. Aku rindu kamar kosanku, kantor, teman-teman kantor, pantai-pantai indah di sekeliling Lombok, dan pekerjaan menumpuk yang menunggu sekarang lebih serupa hidangan penutup yang kunantikan. Tapi, sebelumnya, aku harus bisa melewati halang rintang ini dulu satu persatu; tidak ketinggalan pesawat di San Fransisco!

Aku tidak terlalu antusias. Membayangkan aku mungkin harus melewati pos imigrasi ditambah sederet pos pemeriksaan lainnya. Aku tidak ingat bagaimana terakhir kali aku meninggalkan Amerika, yang aku ingat, sepanjang perjalananku melewati airport demi airport, selalu ada pos pemeriksaan. Dan di sana, akan ada antrian, mungkin menghabiskan waktu bermenit-menit pula untuk menjawab beberapa pertanyaan.

Ah, 55 menit waktu transitku tampak tak cukup untuk itu. Belum lagi otakku sibuk berpikir, apakah pesawatku mendarat di teminal yang sama dengan teminal keberangkatan pesawatku yang selanjutnya? Oh no. Aku seharusnya pasrah. Tapi entah kenapa, aku hanya ingin berusaha sedikit, sedikit lebih. Siapa tahu. Akhirnya kuhabiskan waktu 6 jam itu dengan bersiasat dan berniat nekad. Dan begitu pesawat mendarat, aku langsung beraksi. Tidak seperti biasanya, aku langsung merangsek ke penumpang yang duduk di sebelahku, dan mencoba maju melewati penumpang-penumpang lain yang berdiri mengantri menunggu pintu pesawat dibuka.

Beberapa penumpang lain dengan wajah prihatin memberiku jalan, bahkan menolong mengambilkan koper kecilku yang lumayan berat dari kabin. Beberapa tampak acuh tak acuh, dan yang lain terlihat terganggu dengan ulahku. Biasanya aku selalu jadi anak manis yang menunggu antrian dengan patuh. Tapi kali ini, maaf ya om tante, bapak ibu, semuanya, saya terancam ketinggalan pesawat, jadi setiap detik itu berharga.

Perjuanganku membuahkan hasil, aku bisa menghemat waktu 10 menit, dan melesat menuju meja transit. Di sana, aku menunjukkan tiket penerbangan berikutnya, dan petugas di meja itu memberi informasi kalau aku hanya butuh berjalan lurus kemudian belok kanan, terus dan terus dan terus terkesan jauh sekali dan aku akan berpapasan dengan tanda yang menunjukkan lokasi gerbang penerbanganku. Masih ada waktu 45 menit lagi. Aku melesat secepat yang aku bisa. Lari secepatnya sambil menggendong tas sandang dan menarik koperku. Belum kulihat tanda yang dijelaskan petugas tadi.

Aku berhenti sesaat, menarik napas panjang, dan menyadari aku kehausan dan tidak punya minuman. Pria dengan tinggi dua kali tinggi badanku itu, tampak tergopoh mengejar di belakangku.

FILM & THEATER MARATHON

Aku mengerutkan kening. Tiba-tiba merasa mual. Jadi sekarang selain harus bertanggung jawab terhadap penerbanganku sendiri, aku juga harus ikut menentukan nasib Om om ini? Aku hanya terus berlari secepat aku bisa, dan di kejauhan aku melihat tanda itu. Oh thank God, aku di jalur yang benar. Tapi tak urung, aku sudah sedikit relax, dan mengurangi kecepatan lariku. Aku mengangguk tanpa menyadari bahwa dia mungkin tidak bisa melihat anggukanku.

Aku tersenyum sambil berpikir, okay, jauh lebih baik memang, punya teman sependeritaan daripada berlarian sendiri saat ini, tapi, bisakah kita nggak ngobrol, dan cukup merasa senasib sepenanggungan? Oh syukurlah, itu dia gerbangnya dan beberapa orang masih tampak antri. Hampir saja kami tos, kalau saja kami tidak baru saja menuntaskan lari marathon. Dia -yang aku tidak tahu namanya itu- dengan sigap mengeluarkan boarding pass nya dan langsung masuk sambil melambaikan tangan ke arahku yang memilih duduk sejenak, menghela napas, baru kemudian berbaris mengambil tempat antrian terakhir.

Putri Salju dan Mawar Merah - Dongeng anak - Dongeng Bahasa Indonesia

Akhirnya aku masuk pesawat, dan sebelum duduk, aku minta segelas air. Dia tertawa, aku tertawa. Ya, tadi itu lucu. Lucu sekarang, karena kita berdua berhasil tiba tepat waktu, coba kalau tidak. Mungkin tadi itu sama sekali tidak lucu. Aku kira begitu, atau bukan begitu. Yang jelas aku mulai mengkhawatirkan hal lain sekarang ini. Real Fast! Modifications Sound of Cars talk about car audio so closely connected with the sound quality car audio.

Minicraft House Design Complete First play Miniicraft and do not know what to do first once in your new world. Shoes For Women Trend in Shoes are fixtures or accessories fashion very closely with women. VK — social network and calls Photo filters and effects, live videos, music subscription and free calls.

Ia tidak akan pergi jauh. Ibu hamba ada di luar. Hamba adalah anak satu-satunya. Bagaimana dengan ibu hamba jika hamba mati? Orangtuanya telah lama tiada. Dia juga tidak memiliki saudara seorang pun. Untuk mendapatkan makan, Mori bekerja sebagai pengamen. Dengan kecapi tua peninggalan ayahnya, Mori bernyanyi dari rumah ke rumah. Teko itu terletak di dapur. Ia selalu mengomel. Mama menuangkan susu ke dalam teko itu untuk membuatnya tenang. Untuk beberapa lama teko itu merasa senang. Dia harus merapikan tempat tidur, mengepel lantai, menjahit, menyeterika, dan masih banyak lagi. Akibatnya, tak ada waktu luang sedikit pun untuknya beristirahat.

The characters in Model 6 are animated figures. There is something about animation itself that provides children with imagination and, therefore, attracts them to ask questions or give comments about the characters. Models 9 and 10 serve a concept of how mothers strive for life with heaps of housework. Mothers are cultural production of housework agency. Di desa tersebut, hiduplah seorang ibu dengan anak lelakinya semata wayang. Anak itu diberi nama Malin Kundang. Mereka hidup sangat miskin. Ayah Malin sudah lama meninggal dunia. Karenanya, ibu si Malin harus berjuang seorang diri menghidupi anaknya.

Mereka hidup di sebuah gubuk tua. Kehidupan mereka sangat miskin. Karenanya, untuk mencukupi kehidupan seharihari mereka harus bekerja sebagai buruh tani. Di desa tersebut hiduplah seorang janda tua dengan tiga orang anak perempuannya. Mereka hidup miskin dan tinggal di sebuah gubuk sederhana. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka mengandalkan penjualan hasil kebun yang sempit.

Ia hidup bersama dengan ibunya yang miskin. Mereka hanya mempunyai rumah gubuk dan seekor kerbau peninggalan ayahnya yang sudah lama meninggal dunia. Mereka hidup sangat sederhana di sebuah gubuk tua. Gubuk itu tidak jauh dari istana. Negeri itu dipimpin oleh seorang raja yang baik hati, arif, dan bijaksana.

Raja tersebut sangat dekat dengan rakyatnya, dari yang tua sampai anak kecil, ia sangat dekat. Karenanya, rakyatnya pun menjadi sangat dekat dengan dirinya. Dari perkawinan tersebut lahirlah seorang bayi laki-laki yang kemudian diberi nama Mamle yang artinya orang sakti. Tidak berapa lama, ayah Mamle meninggal dunia. Mamle hanya tinggal dengan ibunya.

WEBSITE KAK RICO

Inaq Lembain disuruhnya membantu menumbuk padi. Ketika menumbuk padi, kedua anak Inaq Lembain diletakkan di sebuah batu ceper yang tidak jauh dari tempat ia menunbuk padi. Batu itu bernama batu golog. Ibu akan bekerja. Sang kakak bernama Mimi dan adiknya bernama Mini. Mereka tinggal bersama ibunya di sebuah rumah yang sangat sederhana. Namun, tidak seorang pun tahu bahwa ibu kedua gadis yang cantik dan baik hati itu adalah seekor kucing. Meskipun demikian, kedua gadis itu sangat menyayangi ibunya. Kecantikan si gadis tak ada bandingnya.

Matanya indah dan bersinar. Rambutnya hitam, panjang, dan berkilau bagaikan mutiara hitam. Kulitnya putih dan lembut bagaikan sutra. Parasnya cantik menawab. Semua orang mengakui dan mengagumi kecantikan si gadis. Di kerajaan tersebut hidup seorang pangeran bernama Serunting. Ia adalah anak keturunan dari seorang raksasa bernama Putri Tenggang. Pangeran Serunting ini memiliki sifat iri hati. The fathers, in this case, are no longer becoming the money-earner.

However, the sufferings and injuries exposed in this fatherless society give notion of an intense loving maternal care, which can possibly be assumed to the existence of the single female contemporary family. Model stories 8 and 9 refer to the tender attribute of the mothers with their nice-looking daughters.

The seeming naturalness of the power of beauty that is claimed by the daughters is usually matched, in the previous Malaysian model stories, with the naturalness of the power of physical strength claimed by the sons. Conclusion Looking through the eyes of children eyes, the Malaysian and Indonesian children stories and folktales apt to accumulate a society without fathers. The point of the absence of the fathers or their indirect presence, and the presence of the mothers is structurally and functionally a necessary feature for the children to understand certain social formation; which eventually accommodates healthy and positive appreciation to it.

The stories and folktales should be treated as entertainment, diversion from an activity comprising leisure time, time shared with peers and adults. Through this experience, young readers build up wider endowment in their stages of development and allow themselves, with the help of more knowledgeable adults, to construct their assimilation, accumulation, and equilibration growth. However, close attention should be paid to the negative or, positive? References Agger, Ben. Cultural Studies as Critical Theory. London: The Falmer Press.

Dixon-Krauss, Lisbeth. White Plains, NY: Longman. Elliot, Stephen N. Kratochwill, Joan Littlefield, and John Travers. New York: McGraw Hill. Held, David. Introduction to Critical Theory: Horkheimer to Habermas. London: Hutchinson. Kohl, Herbert. Should We Burn Barbar? New York: New Press. Lodge, David ed. London: Longman. Mitchell, Diana. Boston: Pearson Education, Inc. Muakhir, Ali dan Endang Firdaus, New York: St. Sambangsari, Sumbi Tri Indah M.

NJ: Prentice Hall. Read more. Korean Folk Tales. Children need fairy tales. Fish tales: salmon stories, Akan Anansc Stories, Yoruba ijapa Tales, and the. Stories in ELT: Telling tales in school. Fairy Tales and Tall Tales.

admin